Wawancara dgn Produser Film Pintu Terlarang (Part 2)!

Nah movie holic, sudah baca wawancara IMA dengan produser film Pintu Terlarang yang part 1? Kalao belum baca dulu ya sebelum baca part 2 nya yang satu ini. Selamat membaca! =)
IMA: Oh ya, Mba kan juga lagi membuat project FISFIC bersama enam film maker lainnya, boleh tahu ide awal terbentuknya project ini?
ST: Fantastic Indonesian Short Film Competition itu project rame – rame Saya, Joko Anwar, Gareth Evans, The Mo Brothers, Ekky Imanjaya, dan Rusli Eddy. Project ini ada karena tidak puas dengan keadaan film – film horor yang ada sekarang ini yang dibuat asal – asalan, dimana pembuatnya lebih memikirkan judulnya daripada isi filmnya. Judulnya dibuat spektakuler mungkin, supaya marketingnya keluar di judulnya saja. Tujuan project FISFIC sendiri pun untuk merehabilitasikan nama horor, karena menurut kita sebenarnya Asia itu kuat di mistik dibandingkan Hollywood. Seperti Thailand dengan Phobianya, Jepang dengan The Ringnya yang bisa nembus ke pasar international. Itu membuktikan bahwa sebenarnya horor itu bukan genre yang jelek kalau dibikin dengan benar – benar. Apalagi sekarang salah satu sutradara kita, Timo Tjahjanto (sutradara Rumah Dara) masuk anatalogi horor dunia bersama 25 director lainnya di seluruh dunia.
227482_10150187224284013_621059012_7107934_7830744_n
Boleh cek disini buat kamu yang mau ikutan FISFIC
IMA: Tapi mengapa sekarang ini semakin banyak produksi film horor yang semakin tidak berkualitas?
ST: Kalau Saya melihatnya itu sebagai industri film. Di Hollywood sendiri pun juga ada film yang dibuatnya asal – asalan. Selama masih ada penonton mereka akan produksi terus. Kenapa banyak produser yang membuat film seperti itu, karena dia hanya mementingkan balik modalnya saja. Misalnya budget produksinya hanya 1 M, syutingnya hanya bisa 1 minggu, tidak bisa script yang terlalu sulit, lokasi tidak bisa banyak, lighting tidak bisa dimacam - macamin, pemainnya juga tidak bisa yang mahal – mahal atau memakai pemain yang kontroversial agar lebih gampang marketingnya. Dengan begitu andai si produser sudah mendapat 300 ribu penonton saja, dia sudah mendapat untung sekitar 1 M.
IMA: Tapi kenapa ya konsumen kita masih banyak yang menonton film seperti itu?
ST: Penonton film Indonesia itu kan kebanyakan dari golongan BC, bukan AB. Kalau seperti film Pintu Terlarang kan targetnya AB. Sedangkan film horor yang begitu itu kan targetnya BC. Jadi mereka memakai artis yang kontroversial dan banyak di infotainment. Infotainment sendiri sehari bisa sepuluh kali atau lebih, dari pagi sampe malam ada terus, liputannya sama semua, jadi expose ke penonton tv kan banyak banget. Terus kalau di daerah, seperti di Yogja saja bioskopnya hanya satu dan isinya empat layar saja. Tarulah tiga layar buat film Hollywoodnya, jatah film Indonesia hanya 1 layar, belum lagi dalam seminggu keluar 2 film, nah kita harus bersaing untuk 1 layar ini. Saya pernah ke Blok M Plasa untuk ngelihat pola perilaku konsumenya seperti apa. Jadi kebanyakan yang datang ke sana itu mereka tidak baca review dulu atau lewat rekomendasi teman. Mereka datang kesitu, berdiri depan kasir, terus lihat posternya yang mana yang menarik buat mereka, beli deh. Jadi bener - bener on the spot. Selain itu Saya pernah mencoba memberi hadiah kaos, Saya bilang “Yang ini berhadiah kaos loh”, si orangnya bilang “Oh ya sudah yang ini aja deh”. Konsep untuk menikmati filmnya masih beda sama kita. Tapi kalau sekarang sih Saya lewat twitter ingin mengajak golongan yang belum nonton dan percaya sama film Indonesia untuk percaya. Karena ada kok film Indonesia yang bagus.
IMA: Selain project FISFIC ini, Mba Lala kan juga sedang membuat Project Hallo bersama para Geng Cemen (terdiri dari 7 sutradara film ternama, diantaranya Upi, Joko Anwar, Ardy Octaviand, Ody C. Harahap, Adrianto Sinaga, Lasja F. Susanto, dan Dimas Djayaningrat), boleh tolong diceritakan juga mengenai project ini?
ST: Iya, sebenarnya Saya dan Pak Ronny Tjandra dari Jive diajak sama mereka. Mereka butuh satu payung untuk naungin project mereka.. Saya suka banget sama ide objektif dari project ini. Meskipun sutradara – sutradara yang sudah ngetop ini filmnya sudah terkenal dimana - mana, mereka masih mau buat film dengan budget kecil. Karena budget kecil bukan penghalang, yang penting itu kreativitas, terutama cerita.
aaaaa
IMA: Budgetnya sendiri darimana?
ST: Itu nanti Saya dan Pak Ronny yang akan mencari. Meskipun budgetnya kecil, kita mau kasih semangat untuk film maker muda dan ngebuktiin bahwa dengan budget kecil pun kita bisa produksi, bahkan bisa jadi sesuatu. Soalnya sekarang ini kan rata – rata problemanya pada budget.
IMA: Syutingnya kapan Mba kira – kira?
ST: Juni sih kita start, mungkin sampai Juli.
IMA: Tayangnya kapan kira – kira?
ST: September kalau jadi.
IMA: Apakah nanti Project Hallo dan FISFIC akan diikutsertakan ke berbagai festival film international?
ST: Kita lihat saja nanti hasilnya bagaimana. Tetapi sutradara kayak mereka sih engga susah untuk mengikutsertakan filmnya ke festival film diluar.
IMA: Kalao boleh tau film favorit Mba Lala apa ya?
ST: Kalau Indonesia Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Quicky Express, Pintu Terlarang. Kalau film Hollywood Saya lebih suka tahun 90an, karena lebih berkesan buat Saya. Kalau sekarang sih Saya suka film fantasi kayak Lord of The Ring, Pirates of Carribean.
IMA: Mba kan sekarang produser, kalau suatu saat nanti disuruh ngedirect film mau tidak?
ST: Kalau ngedirect sih Saya kurang  tahu. Soalnya harus belajar lagi karena perlu kemampuan teknis untuk menjadi director. Tapi ya tidak tertutup kemungkinan nantinya. Cuman Saya lebih ingin mencoba menjadi penulis sih.
IMA: Mba jadi produser itu belajar otodidak ya?
ST: Produser sebenernya lebih memakai feeling, insting, dan kemampuan marketing. Pengalaman Saya di advertising membantu sekali. Karena kalau produser film di Indonesia ini harus produce, market, dan advertising filmnya sendiri. Sedangkan di Hollywood cukup sampai producing selesai, lalu jual ke studio, terus studio yang bikin distribusi, promosi, dan sebagainya. Terus kita juga tidak punya publicist seperti di Hollywood yang bener - bener bisa memarketkan dan mempublikasikan film sampai point - point terkecil di dalamnya. Di Hollywood saja untuk poster dan trailer, mereka punya agency yang bikin khusus poster dan trailer. Disini kita tidak punya. Makanya film maker kita bisa dibilang indie juga hanya budgetnya saja yang lebih besar.
IMA: Ada pesan buat anak muda yang ingin menjadi film maker?
ST: Jangan males untuk belajar, harus mau usaha, dan kerja keras. Karena untuk bisa menjadi film maker yang baik tidak boleh cepet puas dan tidak bisa hanya menadahkan tangan. Rajin - rajin datang ke acara - acara film dan ketemu dengan orang – orang film. Karena dengan begitu kamu bisa dikenal oleh mereka.
IMA: Oke Mba, terima kasih ya atas waktu luangnya ya.
256059_212781135419917_205971912767506_636433_7678152_o
Hampir 1 jam kami bercengkrama dengan Mba Lala di rumahnya. Sangat menyenangkan berbincang- bincang dengannya seputar film Indonesia. Tentunya dari hasil wawancara kami, tidak mudah ternyata menjadi orang film di negeri sendiri. Selain kurangnya dukungan pemerintah, masih banyak hal yang perlu dibenahi. Kami berharap para movie holic yang membaca artikel kami semangat untuk mendukung perfilman negeri sendiri. Kalau pemerintah kita kurang peduli, kenapa tidak dimulai dari diri kita sendiri aja? Tentunya dukungan para movie holic semua sangat berarti untuk para sineas kita agar dapat membuat karya yang lebih baik lagi. Dukungan kalian bisa dimulai dari hal yang kecil saja, seperti dengan menonton film – film Indonesia yang berkualitas pastinya di bioskop atau tidak membeli bajakan. Terus film yang jelek – jelek kalau bisa ditinggalkan saja. Kalau movie holic sudah mempunyai kemampuan mengapresiasi film dengan baik, niscaya deh film – film tidak bermutu bakal ditinggalkan dan karya yang baik akan berjaya selalu!! Karena film bukan saja dapat menghibur, tapi film juga bisa menyampaikan pesan moral, message, bisa mencerdaskan bangsanya, menyampaikan informasi, dan menyampaikan kultur budaya bangsa. So, mau kan dukung terus perfilman Indonesia? –Because our film is precious-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar