Di dalam sebuah produksi film, selain sutradara, tentunya produser juga merupakan orang yang paling berperan penting dalam suatu film. Kerjaan produser kayak perdana menteri, business manager, influencer, bahkan nahkoda di kapal besar yang harus bisa “menggiring bola” dari awal sampai akhir! Di Indonesia sendiri, tidak banyak produser film yang mau memproduksi film – film berkualitas. Meskipun baru memproduksi 1 film, wanita yang satu ini namanya boleh disejajarkan dengan Mira Lesmana dan Nia Dinata. Yuk mari kita kenalan dengan Sheila Timothy yang akrab disapa Mba Lala, produser dari film Pintu Terlarang. IMA mendapat kesempatan untuk mewawancarai wanita cantik ini seputar awal kariernya, film terbarunya bersama Joko Anwar, project FISFIC, serta project Hallo yang sedang ia kerjakan!
Indonesian Movie Awareness (IMA): Halo Mba, boleh tahu awalnya Mba Lala terjun di dunia film?
Sheila Timothy (ST): Dulu Saya kuliah di Trisakti, fakultas Ekonomi, ambil Marketing. Terus ayahku dulu kan seorang produser musik dari tahun 70 an zamannya Koesplus, Benjamin, dan lainnya. Jadi, Saya sudah terbiasa mendengar dia bercerita tentang kerjaannya tersebut. Selesai kuliah, Saya kerja di Advertising sekitar 2 tahunan. Di Advertising itu, Saya merasa senangnya di proses pembuatan. Kagum dengan cara kita mengumpulkan ide, brainstorm, shoot, sampai jadi. Itu tuh menurut Saya hal yang menarik dan Saya sangat excited dengan hal tersebut. Tidak lama kemudian, Saya menikah dan mempunyai anak. Seiiring berjalannya waktu, adikku, Marsha Timothy, mulai menjadi model iklan dan mulai butuh manager. Akhirnya Saya membantu dia memanage dan mulai ikut menemani dia syuting hingga memulai film pertamanya yaitu, Ekspedisi Madewa. Setiap menemani Caca syuting, Saya jadi kangen sama suasananya. Sejak saat itu Saya mulai benar - benar memperhatikan film Indonesia lagi. Rasanya ingin buat film. Tapi saat itu Saya tidak ada kenalan orang film. Sampai Saya bertemu dengan Fachry Albar yang kebetulan dia jadi pemain di filmnya Joko Anwar yang berjudul Kala. Terus Saya cerita soal mimpi ini sama Ai (panggilan akrab Fachry). Terus Ai bilang main saja dengan sutradara dia. Akhirnya Saya ketemuan dengan Joko, terus kita ngobrol – ngobrol. Saat itu Joko sambil membawa script Pintu Terlarang dan DVD Kala. Begitu pulang ke rumah, Saya mulai membaca script itu sampai selesai. Ketika membaca, Saya merasa ada sesuatu di script ini dari cara penceritaan Joko. Meskipun dari script saja, Saya dapat membayangkan scene per scene tuh gimana, karena begitu visualnya script tersebut. Setelah mendapatkan izin kerja dari suami, Saya mulai benar - benar mikir kapan startnya, buat proposalnya, cari investor, dan sebagainya. Terus banyak diskusi juga sama Joko juga. Meskipun ketika menjalaninya banyak hambatan, tapi karena passion dan semangat ingin merealisasikan film tersebut, Saya kerjakan terus hingga akhirnya film ini jadi.

IMA: Di Indonesia kan tidak banyak calon investor yang mau menanamkan modalnya untuk produksi sebuah film Indonesia, sebagai produser bagaimana Anda menyakinkan para calon investor tersebut?
ST: Biasanya seorang investor itu pasti ada risiko yang harus diterima atau ditanggung bersama, jadi sebenernya bukan seperti sistem pinjam-meminjam uang. Kalau meminjam kan uangnya harus kita kembalikan, akan tetapi kalau investasi, uangnya ditaruh bersama. Keuntungan dibagi rata sesuai dengan persentase investasinya, namun apabila mengalami kerugian, kerugian ditanggung bersama. Sebagai seorang produser, Saya harus berusaha untuk mengembalikan modal investor, karena apabila sudah tidak balik modal, maka untuk selanjutnya akan sulit untuk membuat film berikutnya. Planning untuk mengembalikan modalnya itu yang menantang. Salah satu siasat Saya adalah dengan memproduksi film sebaik mungkin dengan target tidak hanya diterima di pasar lokal akan tetapi juga di pasar international. Untungnya Pintu Terlarang selama 2 tahun ini terus diminta oleh festival film di seluruh dunia. Hingga saat ini, Pintu Terlarang sudah diputar di 25 festival, menang di Puchon, dan sempat direview juga oleh Time International Magazine serta Hollywood Reporter.
IMA: Ketika Pintu Terlarang mendapat apresiasi positif di berbagai festival film di dunia, bagaimana dukungan dari pemerintah kita? Sudah baguskah?
ST: Menurut Saya, dukungan dari pemerintah kita belum tepat sasaran dan perlu dikembangkan lagi. Misalnya saja, ketika Saya ikut serta dalam festival film Puchon, Saya mengirimkan film Saya dengan budget sendiri. Setelah film Saya dinyatakan menang, Saya beserta tim yang harus menghubungi media untuk mempromosikan bahwa film kami menang. Lain halnya jika kita melihat Malaysia dan Thailand yang pemerintahannya sangat mendukung industri film di negaranya. Di Malaysia, ketika sebuah film menang dalam suatu festival film internasional, oleh pemerintahnya diadakan press conference untuk disebarluaskan ke masyarakat, lalu film tersebut akan diputar selama sebulan di bioskop dan si film maker tersebut akan mendapatkan keringanan subsidi untuk film berikutnya. Pemerintah kita seharusnya belajar dari mereka, karena dengan begitu dapat mendukung film maker kita untuk terus berproduksi.
IMA: Berbicara mengenai festival film, Pintu Terlarang sempat dinominasikan di Festival Film Indonesia, apakah Mba tidak skeptis terhadap FFI seperti beberapa sineas lainnya?
ST: Skeptis dalam hal begini, FFI adalah salah satu ikon perfilman Indonesia yang harus kita dukung. Namun, banyak hal yang masih harus dibenahi terlebih dahulu, mulai dari kepengurusannya, dan sebagainya. Kita lihat saja bagaimana perkembangan kedepannya nanti. Dan Saya positif thinking untuk hal tersebut.
IMA: Oh ya, ketika para film maker kita menghadiri festival film international, apakah itu biaya dari pemerintah, sendiri, atau darimana?
ST: Biaya tersebut ditanggung oleh panitia festival film itu sendiri. Mereka membiayai para director, produser, dan pemain untuk menghadiri festival tersebut beserta akomodasinya. Biasanya mereka juga meminta copyan film baru kami dan biaya tersebut juga ditanggung oleh mereka. Seperti waktu kami di festival film Fukuoka, Jepang, Film Indonesia yang berada di Jepang kan ada sekitar 28 buah (termasuk film – film lama). Dari situ dapat kita lihat kalau mereka memang menghargai sekali film sebagai bagian dari perkembangan budaya Asia. Hal ini tentunya berbeda sekali dengan negara kita. Hal ini tercermin dari keadaan Sinematek Indonesia yang berada di Kuningan PPHUI, dimana sebagian besar mungkin filmnya sudah berjamur, lengket, dan sebagainya karena yayasannya sendiri tidak mendapat dana dari pemerintah. Kondisi Sinematek yang seharusnya 6 derajat celcius, malah kurang dari 6 derajat celcius. Sehingga, ketika Nia Dinata ingin memutarkan film Nakalnya Anak – Anak (film tahun 70 an yang diperankan oleh Ria Irawan) di KidFest, sudah tidak bisa. Padahal film tahun 70 an kuat sekali di penceritaannya dan itu bisa menambah pengetahuan untuk anak zaman sekarang. Hal ini yang membuat kami prihatin. Oleh karena itu, hal ini menjadi salah satu program beberapa sineas kita seperti Saya, Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Joko Anwar, Upi, Mieke, Pak Ronny, dan lainnya. Kami sedang berusaha membuat program Save Sinematek Indonesia karena film yang dari tahun 1970 an saja sudah rusak dan membutuhkan biaya restorasi sekitar 700 juta untuk 1 film, karena itu kan merupakan sejarahnya kita, sejarahnya film Indonesia yang harus kita jaga.

IMA: Kalau boleh tahu sejauh mana program Save Sinematek Indonesia ini berjalan?
ST: Rencana kami adalah setiap PH mengambil 1 film dan mencari dana untuk restorasi. Namun, untuk saat ini kami sedang mempelajari mengenai hak ciptanya, perizinannya, kalau sudah tidak ada lagi produsernya bagaimana, kalau sudah restorasi filmnya mau ditaruh dimana, dan sebagainya. Semuanya itu harus dibenahi terlebih dahulu dan harus dipikirkan kembali.
IMA: Kabarnya, Mba akan membuat film terbaru dengan Joko Anwar yang berjudul The Eksekutors ya?
ST: Iya, tetapi sekarang masih dalam tahap script development dan mencari investor. Genrenya sih action comedy tentang sekelompok orang yang tidak puas dengan keadaan dan ingin merubah keadaan tersebut. Menurut Joko, penulisan script ini sedikit sulit. Meskipun sulit, kami berharap hasilnya nanti lebih bagus lagi.
IMA: Kira – kira akan produksi kapan?
ST: Oktober ini.
IMA: Apakah pemakaian pemainnya akan sama dengan Pintu Terlarang?
ST: Kalau soal pemain belum bisa dipastikan juga. Akan tetapi biasanya sutradara sudah mempunyai bayangan siapa yang kira – kira cocok untuk memerankan karakter tersebut. Apalagi Joko juga berperan sebagai penulis disini.

Masih banyak perbincangan menarik dengan produser yang satu ini, terutama tentang project FISFIC dan Hallo yang sedang ia kerjakan. Tapi akan kita update di part dua yaa. So, pantengin terus twitter (@Ind_Movie_Aware) dan FB Page (Indonesian Movie Awareness) IMA untuk informasi selanjutnya! Terima kasih. -Because our film is precious-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar