Catatan Harian Si Boy (Coming Soon 1 Juli 2011)

film25611b
Cast: Ario Bayu, Carissa Putri, Poppy Sovia, Paul Foster, Tara Basro, Abimana Setya, Albert Halim
Director: Putrama Tuta
Script Writer: Priesnanda Dwisatria dan Ilya Sigma
Sinopsis:
Nuke terbaring sakit namun tangannya tidak pernah lepas memegang sebuah buku. Anak Nuke yang bernama Natasha (Carissa Puteri) pulang dari London untuk menemui ibunya. Dokter hampir menyerah dan menyarankan Natasha mencari pemilik buku tersebut untuk membuat ibunya senang di akhir hayatnya.
Di jalanan, Satrio (Ario Bayu) sedang berpacu dengan mobilnya sebagai pembalap liar didukung 3 sahabat baiknya.
Dalam satu kejadian, mereka semua bertemu di kantor polisi. Satrio yang tertarik dengan Natasha memutuskan untuk membantu Natasha mencari pemilik buku yang dipegang Nuke, yang ternyata adalah sebuah buku catatan harian seorang laki-laki bernama Boy (Onky Alexander).
Namun usaha mereka tidak berjalan mulus saat cinta segitiga terbentuk, para preman muncul, kekerasan terjadi dan Boy mungkin sudah berubah tidak seperti yang tergambarkan di buku hariannya.
Trailer: http://www.youtube.com/watch?v=F3W1DIyl7Zk
cabo_ca
Komentar:
Ingatkan kalian ketika di tahun 80 - 90 an semua wanita tergila – gila dengan tokoh karakter dalam sebuah film yang bernama Boy? Semua pria saat itu pun mencoba menjadi seperti Boy. Bisa dikatakan Boy adalah ikon saat itu dan pria idaman semua wanita. Mempunyai wajah yang ganteng, lahir di kalangan keluarga berada, gaul, dan stylish, tentunya mudah bagi Boy untuk menarik perhatian wanita yang diinginkannya. Namun tidak hanya itu yang dimiliki Boy, Boy juga terkenal dengan anak muda yang sopan, smart, dan religius. Catatan Si Boy yang disutradarai oleh Nasri Cheppy ketika itu menjadi sebuah film Indonesia yang begitu fenomenal. Bahkan film ini diproduksi sampai film kelimanya, tepatnya terakhir pada tahun 1991.
catatan-si-boy
boy
catatan_si_boy_3
tumblr_ktrxiclvsr1qzkd3x
Akankah kini film Catatan Harian Si Boy akan dapat sefenomenal lima film terdahulunya? Catatan Harian Si Boy bukanlah remake film pendahulunya seperti yang dilakukan film Badai Pasti Berlalu. Film ini murni merupakan lanjutan film dari pendahulunya yang diperankan oleh Onky Alexander. Jika kita melihat trailer film ini sungguh amat mejanjikan dan respon dari para undangan yang datang saat premiere pun sangat positif. Film ini pun diperankan oleh aktor dan aktris muda yang tidak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya seperti Ario Bayu, Poppy Sovia, dan Carissa Puteri. Catatan Harian Si Boy pun berusaha untuk membuat kemasan film ini sesuai dengan masa kini. Hal ini bisa kita lihat pada wadrobe para tokoh yang begitu stylish dan mobil – mobil balap liar yang sangat keren. Oleh karena itu, kami sangat merecomendeed film Catatan Harian Si Boy untuk Anda tonton! Jangan sampai terlewatkan mulai 1 Juli 2011 di bioskop kesayangan Anda! =) Catatan Harian Si Boy “Finish, What You’ve Started”
cabo_bts-0835

The Fact:
* Catatan Harian Si Boy merupakan film panjang pertama dari sang sutradara.
* Akan ada penampilan spesial dari Boy dan Emon terdahulu!!! Yup, Onky Alexander serta Didi Petet turut tampil dalam film ini. Selain itu akan ada Joko Anwar dan Nazyra C. Noer.

1
21
3
4
5
6
7
8
10
catatan-si-harian-boy-thumb-210xauto-22857

Wawancara dgn Produser Film Pintu Terlarang (Part 2)!

Nah movie holic, sudah baca wawancara IMA dengan produser film Pintu Terlarang yang part 1? Kalao belum baca dulu ya sebelum baca part 2 nya yang satu ini. Selamat membaca! =)
IMA: Oh ya, Mba kan juga lagi membuat project FISFIC bersama enam film maker lainnya, boleh tahu ide awal terbentuknya project ini?
ST: Fantastic Indonesian Short Film Competition itu project rame – rame Saya, Joko Anwar, Gareth Evans, The Mo Brothers, Ekky Imanjaya, dan Rusli Eddy. Project ini ada karena tidak puas dengan keadaan film – film horor yang ada sekarang ini yang dibuat asal – asalan, dimana pembuatnya lebih memikirkan judulnya daripada isi filmnya. Judulnya dibuat spektakuler mungkin, supaya marketingnya keluar di judulnya saja. Tujuan project FISFIC sendiri pun untuk merehabilitasikan nama horor, karena menurut kita sebenarnya Asia itu kuat di mistik dibandingkan Hollywood. Seperti Thailand dengan Phobianya, Jepang dengan The Ringnya yang bisa nembus ke pasar international. Itu membuktikan bahwa sebenarnya horor itu bukan genre yang jelek kalau dibikin dengan benar – benar. Apalagi sekarang salah satu sutradara kita, Timo Tjahjanto (sutradara Rumah Dara) masuk anatalogi horor dunia bersama 25 director lainnya di seluruh dunia.
227482_10150187224284013_621059012_7107934_7830744_n
Boleh cek disini buat kamu yang mau ikutan FISFIC
IMA: Tapi mengapa sekarang ini semakin banyak produksi film horor yang semakin tidak berkualitas?
ST: Kalau Saya melihatnya itu sebagai industri film. Di Hollywood sendiri pun juga ada film yang dibuatnya asal – asalan. Selama masih ada penonton mereka akan produksi terus. Kenapa banyak produser yang membuat film seperti itu, karena dia hanya mementingkan balik modalnya saja. Misalnya budget produksinya hanya 1 M, syutingnya hanya bisa 1 minggu, tidak bisa script yang terlalu sulit, lokasi tidak bisa banyak, lighting tidak bisa dimacam - macamin, pemainnya juga tidak bisa yang mahal – mahal atau memakai pemain yang kontroversial agar lebih gampang marketingnya. Dengan begitu andai si produser sudah mendapat 300 ribu penonton saja, dia sudah mendapat untung sekitar 1 M.
IMA: Tapi kenapa ya konsumen kita masih banyak yang menonton film seperti itu?
ST: Penonton film Indonesia itu kan kebanyakan dari golongan BC, bukan AB. Kalau seperti film Pintu Terlarang kan targetnya AB. Sedangkan film horor yang begitu itu kan targetnya BC. Jadi mereka memakai artis yang kontroversial dan banyak di infotainment. Infotainment sendiri sehari bisa sepuluh kali atau lebih, dari pagi sampe malam ada terus, liputannya sama semua, jadi expose ke penonton tv kan banyak banget. Terus kalau di daerah, seperti di Yogja saja bioskopnya hanya satu dan isinya empat layar saja. Tarulah tiga layar buat film Hollywoodnya, jatah film Indonesia hanya 1 layar, belum lagi dalam seminggu keluar 2 film, nah kita harus bersaing untuk 1 layar ini. Saya pernah ke Blok M Plasa untuk ngelihat pola perilaku konsumenya seperti apa. Jadi kebanyakan yang datang ke sana itu mereka tidak baca review dulu atau lewat rekomendasi teman. Mereka datang kesitu, berdiri depan kasir, terus lihat posternya yang mana yang menarik buat mereka, beli deh. Jadi bener - bener on the spot. Selain itu Saya pernah mencoba memberi hadiah kaos, Saya bilang “Yang ini berhadiah kaos loh”, si orangnya bilang “Oh ya sudah yang ini aja deh”. Konsep untuk menikmati filmnya masih beda sama kita. Tapi kalau sekarang sih Saya lewat twitter ingin mengajak golongan yang belum nonton dan percaya sama film Indonesia untuk percaya. Karena ada kok film Indonesia yang bagus.
IMA: Selain project FISFIC ini, Mba Lala kan juga sedang membuat Project Hallo bersama para Geng Cemen (terdiri dari 7 sutradara film ternama, diantaranya Upi, Joko Anwar, Ardy Octaviand, Ody C. Harahap, Adrianto Sinaga, Lasja F. Susanto, dan Dimas Djayaningrat), boleh tolong diceritakan juga mengenai project ini?
ST: Iya, sebenarnya Saya dan Pak Ronny Tjandra dari Jive diajak sama mereka. Mereka butuh satu payung untuk naungin project mereka.. Saya suka banget sama ide objektif dari project ini. Meskipun sutradara – sutradara yang sudah ngetop ini filmnya sudah terkenal dimana - mana, mereka masih mau buat film dengan budget kecil. Karena budget kecil bukan penghalang, yang penting itu kreativitas, terutama cerita.
aaaaa
IMA: Budgetnya sendiri darimana?
ST: Itu nanti Saya dan Pak Ronny yang akan mencari. Meskipun budgetnya kecil, kita mau kasih semangat untuk film maker muda dan ngebuktiin bahwa dengan budget kecil pun kita bisa produksi, bahkan bisa jadi sesuatu. Soalnya sekarang ini kan rata – rata problemanya pada budget.
IMA: Syutingnya kapan Mba kira – kira?
ST: Juni sih kita start, mungkin sampai Juli.
IMA: Tayangnya kapan kira – kira?
ST: September kalau jadi.
IMA: Apakah nanti Project Hallo dan FISFIC akan diikutsertakan ke berbagai festival film international?
ST: Kita lihat saja nanti hasilnya bagaimana. Tetapi sutradara kayak mereka sih engga susah untuk mengikutsertakan filmnya ke festival film diluar.
IMA: Kalao boleh tau film favorit Mba Lala apa ya?
ST: Kalau Indonesia Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Quicky Express, Pintu Terlarang. Kalau film Hollywood Saya lebih suka tahun 90an, karena lebih berkesan buat Saya. Kalau sekarang sih Saya suka film fantasi kayak Lord of The Ring, Pirates of Carribean.
IMA: Mba kan sekarang produser, kalau suatu saat nanti disuruh ngedirect film mau tidak?
ST: Kalau ngedirect sih Saya kurang  tahu. Soalnya harus belajar lagi karena perlu kemampuan teknis untuk menjadi director. Tapi ya tidak tertutup kemungkinan nantinya. Cuman Saya lebih ingin mencoba menjadi penulis sih.
IMA: Mba jadi produser itu belajar otodidak ya?
ST: Produser sebenernya lebih memakai feeling, insting, dan kemampuan marketing. Pengalaman Saya di advertising membantu sekali. Karena kalau produser film di Indonesia ini harus produce, market, dan advertising filmnya sendiri. Sedangkan di Hollywood cukup sampai producing selesai, lalu jual ke studio, terus studio yang bikin distribusi, promosi, dan sebagainya. Terus kita juga tidak punya publicist seperti di Hollywood yang bener - bener bisa memarketkan dan mempublikasikan film sampai point - point terkecil di dalamnya. Di Hollywood saja untuk poster dan trailer, mereka punya agency yang bikin khusus poster dan trailer. Disini kita tidak punya. Makanya film maker kita bisa dibilang indie juga hanya budgetnya saja yang lebih besar.
IMA: Ada pesan buat anak muda yang ingin menjadi film maker?
ST: Jangan males untuk belajar, harus mau usaha, dan kerja keras. Karena untuk bisa menjadi film maker yang baik tidak boleh cepet puas dan tidak bisa hanya menadahkan tangan. Rajin - rajin datang ke acara - acara film dan ketemu dengan orang – orang film. Karena dengan begitu kamu bisa dikenal oleh mereka.
IMA: Oke Mba, terima kasih ya atas waktu luangnya ya.
256059_212781135419917_205971912767506_636433_7678152_o
Hampir 1 jam kami bercengkrama dengan Mba Lala di rumahnya. Sangat menyenangkan berbincang- bincang dengannya seputar film Indonesia. Tentunya dari hasil wawancara kami, tidak mudah ternyata menjadi orang film di negeri sendiri. Selain kurangnya dukungan pemerintah, masih banyak hal yang perlu dibenahi. Kami berharap para movie holic yang membaca artikel kami semangat untuk mendukung perfilman negeri sendiri. Kalau pemerintah kita kurang peduli, kenapa tidak dimulai dari diri kita sendiri aja? Tentunya dukungan para movie holic semua sangat berarti untuk para sineas kita agar dapat membuat karya yang lebih baik lagi. Dukungan kalian bisa dimulai dari hal yang kecil saja, seperti dengan menonton film – film Indonesia yang berkualitas pastinya di bioskop atau tidak membeli bajakan. Terus film yang jelek – jelek kalau bisa ditinggalkan saja. Kalau movie holic sudah mempunyai kemampuan mengapresiasi film dengan baik, niscaya deh film – film tidak bermutu bakal ditinggalkan dan karya yang baik akan berjaya selalu!! Karena film bukan saja dapat menghibur, tapi film juga bisa menyampaikan pesan moral, message, bisa mencerdaskan bangsanya, menyampaikan informasi, dan menyampaikan kultur budaya bangsa. So, mau kan dukung terus perfilman Indonesia? –Because our film is precious-

Wawancara dgn produser film Pintu Terlarang (Part 1)!

Di dalam sebuah produksi film, selain sutradara, tentunya produser juga merupakan orang yang paling berperan penting dalam suatu film. Kerjaan produser kayak perdana menteri, business manager, influencer, bahkan nahkoda di kapal besar yang harus bisa “menggiring bola” dari awal sampai akhir! Di Indonesia sendiri, tidak banyak produser film yang mau memproduksi film – film berkualitas. Meskipun baru memproduksi 1 film, wanita yang satu ini namanya boleh disejajarkan dengan Mira Lesmana dan Nia Dinata. Yuk mari kita kenalan dengan Sheila Timothy yang akrab disapa Mba Lala, produser dari film Pintu Terlarang. IMA mendapat kesempatan untuk mewawancarai wanita cantik ini seputar awal kariernya, film terbarunya bersama Joko Anwar, project FISFIC, serta project Hallo yang sedang ia kerjakan!
Indonesian Movie Awareness (IMA): Halo Mba, boleh tahu awalnya Mba Lala terjun di dunia film?
Sheila Timothy (ST): Dulu Saya kuliah di Trisakti, fakultas Ekonomi, ambil Marketing. Terus ayahku dulu kan seorang produser musik dari tahun 70 an zamannya Koesplus, Benjamin, dan lainnya. Jadi, Saya sudah terbiasa mendengar dia bercerita tentang kerjaannya tersebut. Selesai kuliah, Saya kerja di Advertising sekitar 2 tahunan. Di Advertising itu, Saya merasa senangnya di proses pembuatan. Kagum dengan cara kita mengumpulkan ide, brainstorm, shoot, sampai jadi. Itu tuh menurut Saya hal yang menarik dan Saya sangat excited dengan hal tersebut. Tidak lama kemudian, Saya menikah dan mempunyai anak. Seiiring berjalannya waktu, adikku, Marsha Timothy, mulai menjadi model iklan dan mulai butuh manager. Akhirnya Saya membantu dia memanage dan mulai ikut menemani dia syuting hingga memulai film pertamanya yaitu, Ekspedisi Madewa. Setiap menemani Caca syuting, Saya jadi kangen sama suasananya. Sejak saat itu Saya mulai benar - benar memperhatikan film Indonesia lagi. Rasanya ingin buat film. Tapi saat itu Saya tidak ada kenalan orang film. Sampai Saya bertemu dengan Fachry Albar yang kebetulan dia jadi pemain di filmnya Joko Anwar yang berjudul Kala. Terus Saya cerita soal mimpi ini sama Ai (panggilan akrab Fachry). Terus Ai bilang main saja dengan sutradara dia. Akhirnya Saya ketemuan dengan Joko, terus kita ngobrol – ngobrol. Saat itu Joko sambil membawa script Pintu Terlarang dan DVD Kala. Begitu pulang ke rumah, Saya mulai membaca script itu sampai selesai. Ketika membaca, Saya merasa ada sesuatu di script ini dari cara penceritaan Joko. Meskipun dari script saja, Saya dapat membayangkan scene per scene tuh gimana, karena begitu visualnya script tersebut. Setelah mendapatkan izin kerja dari suami, Saya mulai benar - benar mikir kapan startnya, buat proposalnya, cari investor, dan sebagainya. Terus banyak diskusi juga sama Joko juga. Meskipun ketika menjalaninya banyak hambatan, tapi karena passion dan semangat ingin merealisasikan film tersebut, Saya kerjakan terus hingga akhirnya film ini jadi.
1203
IMA: Di Indonesia kan tidak banyak calon investor yang mau menanamkan modalnya untuk produksi sebuah film Indonesia, sebagai produser bagaimana Anda menyakinkan para calon investor tersebut?
ST: Biasanya seorang investor itu pasti ada risiko yang harus diterima atau ditanggung bersama, jadi sebenernya bukan seperti sistem pinjam-meminjam uang. Kalau meminjam kan uangnya harus kita kembalikan, akan tetapi kalau investasi, uangnya ditaruh bersama. Keuntungan dibagi rata sesuai dengan persentase investasinya, namun apabila mengalami kerugian, kerugian ditanggung bersama. Sebagai seorang produser, Saya harus berusaha untuk mengembalikan modal investor, karena apabila sudah tidak balik modal, maka untuk selanjutnya akan sulit untuk membuat film berikutnya. Planning untuk mengembalikan modalnya itu yang menantang. Salah satu siasat Saya adalah dengan memproduksi film sebaik mungkin dengan target tidak hanya diterima di pasar lokal akan tetapi juga di pasar international. Untungnya Pintu Terlarang selama 2 tahun ini terus diminta oleh festival film di seluruh dunia. Hingga saat ini, Pintu Terlarang sudah diputar di 25 festival, menang di Puchon, dan sempat direview juga oleh Time International Magazine serta Hollywood Reporter.
IMA: Ketika Pintu Terlarang mendapat apresiasi positif di berbagai festival film di dunia, bagaimana dukungan dari pemerintah kita? Sudah baguskah?
ST: Menurut Saya, dukungan dari pemerintah kita belum tepat sasaran dan perlu dikembangkan lagi. Misalnya saja, ketika Saya ikut serta dalam festival film Puchon, Saya mengirimkan film Saya dengan budget sendiri. Setelah film Saya dinyatakan menang, Saya beserta tim yang harus menghubungi media untuk mempromosikan bahwa film kami menang. Lain halnya jika kita melihat Malaysia dan Thailand yang pemerintahannya sangat mendukung industri film di negaranya. Di Malaysia, ketika sebuah film menang dalam suatu festival film internasional, oleh pemerintahnya diadakan press conference untuk disebarluaskan ke masyarakat, lalu film tersebut akan diputar selama sebulan di bioskop dan si film maker tersebut akan mendapatkan keringanan subsidi untuk film berikutnya. Pemerintah kita seharusnya belajar dari mereka, karena dengan begitu dapat mendukung film maker kita untuk terus berproduksi.
IMA: Berbicara mengenai festival film, Pintu Terlarang sempat dinominasikan di Festival Film Indonesia, apakah Mba tidak skeptis terhadap FFI seperti beberapa sineas lainnya?
ST: Skeptis dalam hal begini, FFI adalah salah satu ikon perfilman Indonesia yang harus kita dukung. Namun, banyak hal yang masih harus dibenahi terlebih dahulu, mulai dari kepengurusannya, dan sebagainya. Kita lihat saja bagaimana perkembangan kedepannya nanti. Dan Saya positif thinking untuk hal tersebut.
IMA: Oh ya, ketika para film maker kita menghadiri festival film international, apakah itu biaya dari pemerintah, sendiri, atau darimana?
ST: Biaya tersebut ditanggung oleh panitia festival film itu sendiri. Mereka membiayai para director, produser, dan pemain untuk menghadiri festival tersebut beserta akomodasinya. Biasanya mereka juga meminta copyan film baru kami dan biaya tersebut juga ditanggung oleh mereka. Seperti waktu kami di festival film Fukuoka, Jepang, Film Indonesia yang berada di Jepang kan ada sekitar 28 buah (termasuk film – film lama). Dari situ dapat kita lihat kalau mereka memang menghargai sekali film sebagai bagian dari perkembangan budaya Asia. Hal ini tentunya berbeda sekali dengan negara kita. Hal ini tercermin dari keadaan Sinematek Indonesia yang berada di Kuningan PPHUI, dimana sebagian besar mungkin filmnya sudah berjamur, lengket, dan sebagainya karena yayasannya sendiri tidak mendapat dana dari pemerintah. Kondisi Sinematek yang seharusnya 6 derajat celcius, malah kurang dari 6 derajat celcius. Sehingga, ketika Nia Dinata ingin memutarkan film Nakalnya Anak – Anak (film tahun 70 an yang diperankan oleh Ria Irawan) di KidFest, sudah tidak bisa. Padahal film tahun 70 an kuat sekali di penceritaannya dan itu bisa menambah pengetahuan untuk anak zaman sekarang. Hal ini yang membuat kami prihatin. Oleh karena itu, hal ini menjadi salah satu program beberapa sineas kita seperti Saya, Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Joko Anwar, Upi, Mieke, Pak Ronny, dan lainnya. Kami sedang berusaha membuat program Save Sinematek Indonesia karena film yang dari tahun 1970 an saja sudah rusak dan membutuhkan biaya restorasi sekitar 700 juta untuk 1 film, karena itu kan merupakan sejarahnya kita, sejarahnya film Indonesia yang harus kita jaga.
155344_463641479012_621059012_5753067_2156678_n
IMA: Kalau boleh tahu sejauh mana program Save Sinematek Indonesia ini berjalan?
ST: Rencana kami adalah setiap PH mengambil 1 film dan mencari dana untuk restorasi. Namun, untuk saat ini kami sedang mempelajari mengenai hak ciptanya, perizinannya, kalau sudah tidak ada lagi produsernya bagaimana, kalau sudah restorasi filmnya mau ditaruh dimana, dan sebagainya. Semuanya itu harus dibenahi terlebih dahulu dan harus dipikirkan kembali.
IMA: Kabarnya, Mba akan membuat film terbaru dengan Joko Anwar yang berjudul The Eksekutors ya?
ST: Iya, tetapi sekarang masih dalam tahap script development dan mencari investor. Genrenya sih action comedy tentang sekelompok orang yang tidak puas dengan keadaan dan ingin merubah keadaan tersebut. Menurut Joko, penulisan script ini sedikit sulit. Meskipun sulit, kami berharap hasilnya nanti lebih bagus lagi.
IMA: Kira – kira akan produksi kapan?
ST: Oktober ini.
IMA: Apakah pemakaian pemainnya akan sama dengan Pintu Terlarang?
ST: Kalau soal pemain belum bisa dipastikan juga. Akan tetapi biasanya sutradara sudah mempunyai bayangan siapa yang kira – kira cocok untuk memerankan karakter tersebut. Apalagi Joko juga berperan sebagai penulis disini.
n18471054359_763038_7476
Masih banyak perbincangan menarik dengan produser yang satu ini, terutama tentang project FISFIC dan Hallo yang sedang ia kerjakan. Tapi akan kita update di part dua yaa. So, pantengin terus twitter (@Ind_Movie_Aware) dan FB Page (Indonesian Movie Awareness) IMA untuk informasi selanjutnya! Terima kasih. -Because our film is precious-